Reported Growth Stayed Near 5%. Markets Told Different Stories.
There is a tendency to assume that stable economic conditions should lead to stable market outcomes. But, Indonesia offers an interesting counterexample.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak dalam rentang yang relatif sempit. Inflasi cenderung terkendali, perubahan kebijakan berlangsung bertahap, dan dari permukaan tidak banyak yang terlihat berubah. Secara umum, kondisi ekonomi tampak relatif stabil.
Namun market return tidak selalu sama.
Ada periode ketika pasar bergerak cukup baik. Ada periode lain ketika pasar justru tertinggal — meskipun kondisi ekonomi yang dilaporkan terlihat tidak terlalu berbeda.
Perbedaan itu memunculkan pertanyaan yang menarik:
Apakah level ekonomi memang cukup untuk menjelaskan hasil pasar?
Level ekonomi tetap penting, tetapi sering kali bukan penjelasan utama pergerakan pasar. Ekonomi tumbuh 5% tidak otomatis menghasilkan return pasar yang tinggi. Sebaliknya, pertumbuhan yang moderat juga tidak otomatis menjadi hambatan bagi pasar.
Markets rarely reward good conditions. Markets reward improving conditions.
Pasar bergerak ketika pandangan terhadap masa depan mulai berubah. Harga pasar pada dasarnya adalah ekspektasi yang terus diperbarui, bukan sekadar cerminan kondisi hari ini.
Ketika sebagian orang melihat data ekonomi yang masih terlihat stabil, pasar sering kali sudah mencoba menilai apakah pertumbuhan mulai menguat, apakah tekanan inflasi mulai mereda, apakah kondisi likuiditas akan berubah, atau apakah laba perusahaan berpotensi direvisi.
Karena itu, market sering terlihat bergerak sebelum perubahan ekonomi benar-benar muncul di data resmi.
Markets discount. Headlines confirm.
Perubahan arah sering kali lebih penting daripada level
Dari sudut pandang pasar, perbedaan antara level pertumbuhan 5,0% dan 5,2% mungkin terlihat kecil. Namun perubahan dari melambat menjadi membaik dapat menghasilkan respons yang sangat berbeda.
Hal yang sama berlaku untuk inflasi, likuiditas, maupun ekspektasi laba.
Market tidak hanya bertanya berapa angkanya. Market juga bertanya apakah arahnya berubah.
Rate of change often matters more than the level.
Bagi sebagian orang yang banyak memperhatikan pendekatan top-down atau macro investing, perubahan-perubahan seperti ini sering kali menjadi titik perhatian utama.
Bukan semata karena ingin memprediksi ekonomi.
Tetapi karena pasar sering kali mulai merespons perubahan arah sebelum perubahan itu terlihat jelas di headline ekonomi.
Indonesia memberi contoh yang menarik.
Dalam periode ketika pertumbuhan terlihat relatif stabil, hasil pasar tetap dapat berubah cukup besar.
Bukan karena pasar mengabaikan fundamental. Tetapi karena faktor yang membentuk valuasi terus bergerak di bawah permukaan.
Likuiditas berubah. Aliran modal bergeser.
Ekspektasi laba bergerak. Preferensi risiko berubah.
Dan semuanya dapat terjadi sebelum headline ekonomi ikut bergerak.
Similar economies can produce very different market outcomes.
Grafik visualisasi di atas tidak mencoba menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi menyebabkan pergerakan pasar.
Pesannya lebih sederhana.
Kondisi ekonomi yang terlihat stabil tidak selalu berarti ekspektasi pasar juga stabil. Begitu juga sebaliknya.
Investment Implication
Perhatikan bukan hanya di mana ekonomi berada. Perhatikan apa yang mulai berubah.
Bila demikian, lantas apa yang tengah terjadi di pasar Indonesia. Jika pertumbuhan terlihat stabil saat ini, lalu apa yang sekarang sedang direspons oleh pasar?